Setiawan agak menyesali dirinya karena terlalu keras membantah ibunya. Ia selalu menyesali sikapnya yang satu ini, sikap berterus-terang yang kadang-kadang menyakitkan hati orang lain Selalu ia berusaha melunakkan sikap terus-terangnya itu, dan menempuh cara yang lebih bijaksana, walaupun mungkin dengan sedikit pemulasan kata-kata. Tapi di sini ia bertahan, ia tidak mau memulas kata-kata, karena kata berpulas, demikian pendiriannya, cenderung kepada kepalsuan. Dan Setiawan telah terlanjur memilih sikap terus-terang daripada bijaksana tetapi harus membohong.



Scene  ini saya ambil dari buku Derap Kaki Dendam Hati by Bagin.


Akhir-akhir ini saya sedikit sensi dengan masalah 'katakan dengan indah' seperti yang ada di scene di atas. Akibat buku-buku yang baru saya baca selalu menyinggung-nyinggung tentang masalah ini.


Menyakitkan hati tapi jujur atau bijaksana tapi bohong? Pengennya bijaksana tapi jujur sih (●∩_∩●)


Tapi pilihan yang ketiga ini lebih gampang diucapkan daripada dilakukan. Paling gampang menyakitkan tapi jujur. Kalau misalnya marah sama orang, enakan bentak-bentak aja tuh orang sampai puas. Setelah itu baru menyesal dan minta maaf *plaak*.


Tapi lagi, mengingat yang namanya bikin orang sakit itu sangat berbahaya, seperti yang juga disampaikan di dalam novel ini. Tidak ada salahnya kalau kita belajar bijaksana tapi jujur. Bijaksana tapi bohong kan susah juga. Masa saat kita marah orang yang kita marahi tidak nyadar, ntar malah kitanya lagi yang sakit hati. By the way, ini bisikan angel apa devil ya (¬˛ ¬")


Scene on Three hosted by Bacaan Bzee


Alright, that is my chosen scene today. What's yours?  Click the picture above to see more information about this meme \(^▿^)/


See you again and have a nice '31' for you  ♪(´ε` )