"Kau benar," kata ibunya sambil menarik napas dalam dan berusaha makan. Tetapi sesudah beberapa menit memain-mainkan makanan, ia mendorong piringnya. Ekspresi resah dalam matanya yang merah menyentuh hati Anand. Ia tahu ibunya tidak akan mudah melupakannya. Ia mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah wanita itu, meyakinkannya bahwa ia baik-baik saja, bahwa ia menyayanginya, selamanya. Tetapi jemarinya membentur permukaan dinding yang dingin dan keras. Seketika, dinding itu mulai berkelip-kelip dan bergelombang.


"Tidak!" teriak Anand. Tetapi ruangan itu, dan semua orang di dalamnya, lenyap dalam putaran warna, dan hanya Abhaydatta yang duduk di sampingnya di Balairung Penglihatan.


***



Di ambil dari buku The Conch Bearer  by Chitra Banerjee Divakaruni. Halaman 247 kalau menurut edisi yang saya baca ^_^


Membaca scene ini bikin sedih ya. Kasian Anand. Pasti dia sangat merindukan ibu dan keluarganya setelah perjalanan maut yang dilakukannya untuk membawa keong.


Tapi seperti kata Penyembuh Abhaydatta, untuk bisa meraih sesuatu yang besar, seseorang harus melepaskan cengkeramannya atas sesuatu yang juga sama disukainya.


Haruskah selalu seperti itu? (╥﹏╥)


Scene on Three hosted by Bacaan Bzee


OK, that is my chosen scene today. What's yours?  Click the picture above to see more information about this meme ^_^


See you next '%3%' and have a wonderful '30' for you  ♪(´ε` )