Sekonyong-konyong petir lain menyambar lebih dekat. Barangkali petir itu ditujukan pada kami; kami baru saja meluncur turun di punggung gunung ombak ketika puncak ombak tersambar petir itu.Terjadi ledakan udara dan air panas. Selama dua-tiga detik serpihan kaca putih membutakan dari jendela kosmis yang pecah menari-nari di langit sana, kelihatannya tipis, namun kekuatannya begitu dahsyat. Suara sepuluh ribu terompet dan dua puluh ribu genderang tak bisa menandingi gemuruh kilatan petir membahana itu; suaranya memekakkan telinga. Laut berubah putih, semua warna lenyap. Segala sesuatu jadi berupa cahaya putih menyilaukan atau bayang-bayang gelap pekat. Cahaya petir itu tidak menerangi sekitarnya, melainkan menembusnya. Dan dia menghilang secepat datangnya tadi--belum lagi semburan air panas berhenti menyiram kami, petir itu sudah lenyap. Laut yang terkena hantamannya kembali hitam dan bergulung-gulung tak peduli. 


Aku terpaku, bagai tersambar petir dalam arti sesungguhnya. Tapi aku tidak takut.


Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam, Maha Pemurah Lagi Maha Penyanyang, yang menguasai di Hari Pembalasa!" gumamku.


***



Scene  ini saya ambil dari buku Life of Pi  by Yann Martel. Halaman 332 - 334 kalau menurut edisi yang saya baca ^_^


Membaca scene ini, selain membuat saya ikut takjub, juga membuat saya jadi ingin merasakan momen yang sama.


Rasanya luar biasa bisa menyaksikan fenomena alam yang indah plus langka itu. Mengerikan memang kalau disaksikan secara dekat. Suatu berkah kalau masih bisa hidup dan memuji kebesaran Tuhan. Dan akan sangat membanggakan saat kita menceritakannya kepada orang lain. Cerita tentang bagaimana petir menghunjam lautan disertai guruh yang memekakkan telinga. Tentang bagaimana lautan berubah menjadi putih. What a awesome moment!


Scene on Three hosted by Bacaan Bzee


OK, that is my chosen scene today. What's yours?  Click the picture above to see more information about this meme ^_^


See you next '3' and have a wonderful '13' for you  ♪(´ε` )