SiCacingdanKotoranKesayangannya


Judul: Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2! | Penutur: Ajahn Brahm | Edisi bahasa: Indonesia | Penerbit: Awareness Publication | Terbitan: Ke-12, Maret 2013 |Status: Meminjam di Perpustakaan |  Rating saya: 3 of 5 stars


***


Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya! Sudah sering melihat buku ini di rak perpustakaan. Sampul dan judulnya menarik untuk dilihat. Tetapi ketika tahu ini adalah semacam buku motivasi, buku ini saya kembalikan lagi di rak. Setelah berkali-kali seperti itu, akhirnya saya memutuskan untuk meminjamnya. Ternyata isinya bagus. Jadi menyesal kenapa tidak dari dulu saya pinjam.


108 kisah pembuka pintu hati yang ada di buku ini dibagi menjadi 9 topik. Mereka adalah Raga yang Rentan, Siap Menerima Perubahan, Pukat Kelekatan, Penolakan Terhadap Dunia, Batin Keliru Tahu, Cinta Tanpa Keakuan, Damai Bahagia Tanpa Syarat, Arif Menyikapi Kehidupan, dan Hati Bebas Lepas.


Masing-masing cerita ditulis dengan ringan dan lucu. Kisah ini ditulis dari sudut pandang orang pertama, yaitu Ajahn Brahm sendiri. Di beberapa kisah, ada adegan di mana si penulis tertawa. Adegan itu dituliskan dengan kata "ha-ha-ha". Kebetulan di sampul belakang buku ada foto Ajahn Brahm. Membayangkan beliau tertawa "ha-ha-ha" membuat saya senyum-senyum sendiri.


Ada beberapa cerita yang sangat berkesan bagi saya. Mereka adalah Tidak Berduka, Mana Mungkin?, Empat Ibu, Eksperimen Kue, dan Puisi untuk Bunda.


Di dalam kisah Tidak Berduka, Mana Mungkin? ada cerita tentang betapa indahnya toleransi antar kehidupan beragama. Di dalam kisah Empat Ibu ada cerita lucu tentang empat orang ibu yang terlalu membangga-banggakan anaknya.  Di dalam Eksperimen Kue ada cerita mengenai bagaimana jadinya kalau seseorang merasanya dirinya berkuasa. Terakhir, di dalam Puisi untuk Bunda ada sebuah puisi indah yang ditulis seorang anak kepada ibunya. Yang membuatnya spesial adalah anak ini ternyata seorang yang dianggap kejam oleh dunia.


Dan tentu saja masih banyak kisah lain yang mampu merubah cara pandang saya terhadap berbagai permasalahan. Melalui cara AFL (Acknowlede, Forgive and Learn): akui, maafkan dan belajar.  Beberapa dari kisah ini sudah pernah saya dengar sebelumnya. Namun  tetap saja, yang namanya cerita penuh hikmah akan tetap selalu penuh hikmah.


Jadi, kesimpulannya 3 bintang dari 5 bintang untuk buku ini. I liked it.


***