photo DSC_0072_zpshmpk4vxm.jpg


***




"Begitulah mereka, si bodoh, sementara aku membuka jalan di belantara dunia usaha."


(Keju, hlm. 96)



SPOILER ALERT


Frans Laarmans, seorang kerani yang sudah bertahun-tahun mempunyai pekerjaan aman dengan gaji tetap, mencoba peruntungannya di dunia usaha dengan berjualan keju.


Kutipan di atas, pada awalnya membuat saya bersemangat. Saya kira ini adalah kisah tentang orang yang berani keluar dari zona nyaman dan berakhir dengan keberhasilan di dunianya yang baru. Tapi saya salah. Ceritanya ternyata tidak seperti itu. Dan endingnya cukup membuat saya kaget.


Setting cerita ini ada di Belgia. Dimana orang-orang biasanya makan keju. Dan membuka usaha penjualan keju bisa dipastikan akan sukses. Tapi tidak bagi Frans Laarmans.


Laarmans tidak suka keju. Laarmans seumur hidupnya adalah seorang kerani. Motivasi Laarmans untuk terjun ke dunia usaha hanyalah untuk meningkatkan status sosial. Tidak mengherankan kalau usahanya gagal. Karena tampaknya Laarmans benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan agar kejunya laku.


Setelah selesai membaca buku ini, awalnya saya takut, kesan pertama yang saya tangkap adalah kisah ini mempunyai pesan moral untuk mensyukuri apa yang sudah kita punya dengan cara jangan berani-berani untuk keluar dari zona nyaman. Begitu bertentangan dengan apa yang selama ini saya baca dan percayai.


Tapi setelah membaca halaman persembahan dan membaca profil pengarang yang ada di halaman akhir. Saya kembali berpikir dan mengeluarkan jurus sotoy saya untuk menyangkal kesan pertama itu.


Mungkin...mungkin saja...buku ini berisi pesan kalau ingin keluar dari zona nyaman, kita benar-benar harus melakukan apa yang kita suka. Bukan mencoba sesuatu yang kita benci hanya karena keuntungan yang dihasilkannya lebih besar.


Sejujurnya saya masih bingung dan sedikit kecewa, kenapa Laarmans kembali menjadi kerani. Mungkin karena menjadi pegawai biasa dengan gaji kecil tetap namun menenangkan memang sudah menjadi jalan hidupnya. Mungkin dengan menjadi kerani, Laarmans bisa mendapatkan hal-hal kecil yang menghangatkan hati, yang tidak bisa dia dapatkan kalau seandainya saja dia menjadi pengusaha kaya yang sukses.


Mungkin kita memang harus memilih, apa yang sebenarnya paling kita inginkan, karena kita tidak bisa mendapatkan semuanya. Yang manapun itu, semuanya mengandung baik dan buruknya masing-masing.


Mungkin buku ini juga mengajarkan, tidak ada salahnya untuk mencoba. Karena dengan berani mencoba, kita masih punya harapan. Dan meskipun nanti hasil akhirnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan, setidaknya kita sudah mencoba dan punya pengalaman yang berharga.




Aku tidak mungkin pulang tanpa berusaha terlebih dahulu, sebab aku tak mau menyesali diri. Nurani yang tenang juga perlu.


(Keju, hlm. 128)



***


Judul: Keju | Pengarang: Willem Elsschot | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan Pertama: Jakarta, Mei 2010, 176 halaman | Status: Owned book | Tanggal beli: 5 Maret 2016 | Tempat beli: Toko Valentine Pasar Moderen Amuntai | Rating saya: 3 dari 5 bintang