Artemis Fowl and The Opal Deception #BookReview

Image
***
Judul: Artemis Fowl and The Opal Deception | Pengarang: Eoin Colfer | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan II, April 2018, 368 hlm, 20 cm | Status Owned Book, Beli Online @HobbyBukuShop, Diterima tanggal 16 Juli 2018 | Rating saya: 4 dari 5 bintang
***
Blurb:
Kaum Peri menghapus semua pengetahuan tentang dunia mereka dari ingatan satu satunya manusia yang mereka takuti : kriminal genius Artemis Fowl. Tapi sekarang mereka membutuhkan anak itu.

Pixie jahat Opal koboi ingin menghancurkan dunia. Menghentikannya berarti membersihkan nama kapten Holly Short yang dituduh membunuh, membebaskan si kurcaci kleptomaniak dari penjara, dan meyakinkan centaur supercerdas bahwa ia tidaklah tahu segalanya.

Kalau saja Artemis bisa mengingat mengapa makhluk makhluk aneh ini sangat bergantung padanya...
My Review:
Ini buku seru sekali deh, seriusss.

Ngomong-ngomong, waktu saya belum kenalan dengan Opal Koboi, saya penasaran sekali dengan buku keempat dari Artemis Fowl ini…

Inkspell Review



***



"Apa gunanya cerita bila kita tidak belajar darinya?"

(Inkspell, hlm. 372)


***

SPOILER ALERT

Blurb


Meskipun satu tahun telah berlalu, tak sehari pun Meggie melupakan berbagai peristiwa luar biasa dalam Inkheart, cerita yang tokoh-tokohnya keluar dari buku lalu mengubah hidup Meggie selamanya.

Sedangkan bagi Staubfinger, kebutuhan untuk kembali ke dalam cerita yang asli sekarang berubah menjadi keharusan. Ketika ia menemukan pencerita jahat yang memiliki kemampuan magis untuk membuatnya masuk kembali ke cerita, Staubfinger pun meninggalkan Farid, muridnya yang masih muda, dan terjun ke Inkworld.

Farid lantas mencari Meggie, dan mereka menemukan jalan untuk ikut masuk ke cerita. Di sana keduanya bertemu Fenoglio, penulis kisah asli Inkheart, yang sekarang tinggal di dalam ceritanya sendiri---dan mendapati cerita itu berubah banyak, malah mungkin berkembang ke arah negatif yang tak pernah dibayangkannya.

Bisakah Meggie, Farid, dan terutama Fenoglio mengembalikan cerita ini ke jalur semula?

My Review


Masih ingat dengan apa yang terjadi di buku pertama, Inkheart? Well, hanya sedikit yang saya ingat. Pokoknya semuanya baik-baik saja. Sekelam tinta memang, tapi sekali lagi semuanya baik-baik saja. Capricorn terkena senjata makan tuan. Meggie bisa berkumpul kembali dengan keluarganya. Fenoglio menghilang ke dalam Inkheat, dan Staubfinger beserta Farid tertinggal dan memilih pergi setelah sebelumnya merebut Inkheart yang dengan senang hati diserahkan oleh Mo.

Tapi buku karangan Fenoglio itu masih belum berhenti membuat masalah. Staubfinger menemukan pembaca baru, seseorang bernama Orpheus yang licik. Orpheus berhasil memulangkan Staubfinger, namun ternyata Orpheus bekerja sama dengan musuh.

Farid yang panik meminta bantuan Meggie agar bisa menyusul Staubfinger. Mereka berdua berhasil masuk ke dalam Inkheart dan ajaibnya berhasil bertahan hidup di Hutan Tak Berujung sampai berhasil menemukan Fenoglio dan Staubfinger sendiri.

Sementara itu, kepergian Meggie berhasil membuat semua penghuni rumah Ellinor galau. Namun, kegundahan mereka tidak berlangsung lama. Dengan berbagai cara, mereka semua akhirnya berhasil memasuki Inkheart. Kehadiran mereka berpotensi mengubah jalan cerita Inkheart, yang memang sudah dari dulu mulai tak terkendali, sejak Mo menarik keluar Capricorn, Basta dan Staubfinger dari dalam cerita mereka sendiri.
***

Saya tidak menyangka buku dengan tema dan sampul seindah ini bisa menceritakan kisah yang suram.

Sebelumnya terima kasih kepada Mbak Maria @ Hobby Buku yang mau direpotin buat mencarikan buku yang sudah lumayan langka ini, *bighug*.

Ternyata Inkspell tebal juga ya. Pegal juga bacanya. Tapi asik sekali berada di antara halaman-halamannya. Walaupun cerita yang disampaikannya kelam. Dan endingnya bikin frustasi. Bisa-bisanya Staubfinger melakukan hal itu. Bisa-bisanya Farid jadi seegois itu.

Paling seru pas adegan Pangeran Perak melakukan verifikasi apakah buku putih memang memenuhi spesifikasi yang dijanjikan, (abaikan istilah aplikasi komputernya, wkwkwk). Wuiih, saya sampai menahan napas. Bagaimana kalau tidak sesuai? Mo dan Meggie bisa tewas saat itu juga.

At last, tidak banyak yang saya ingat setelah membaca Inkspell. Soalnya endingnya membuat penasaran dan saya langsung membaca Inkdeath. So, saya beri 4 dari 5 bintang untuk Inkspell. I really liked it  ('▽'ʃƪ) ♥

***

Judul: Inkspell | Seri: Inkworld #2 | Pengarang: Cornelia Funke |Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia; Cetakan pertama; Jakarta, Juni 2012; 680 halaman; 18 cm | Alih bahasa: Dinyah Latuconsina & Monica D. Chresnayani | Status: Owned Book (@HobbyBuku) | Rating saya: 4 dari 5 bintang | Bisa dibeli di: Belbuk.com, Bukabuku.com



Comments

Popular posts from this blog

Proyek Baca Buku Perpustakaan 2016: Master Post

[#HUT5BBI] Giveaway Hop #BBIGiveaway

Enter The Magical Realm: Post Apocalyptic & Giveaway