Artemis Fowl and The Opal Deception #BookReview

Image
***
Judul: Artemis Fowl and The Opal Deception | Pengarang: Eoin Colfer | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan II, April 2018, 368 hlm, 20 cm | Status Owned Book, Beli Online @HobbyBukuShop, Diterima tanggal 16 Juli 2018 | Rating saya: 4 dari 5 bintang
***
Blurb:
Kaum Peri menghapus semua pengetahuan tentang dunia mereka dari ingatan satu satunya manusia yang mereka takuti : kriminal genius Artemis Fowl. Tapi sekarang mereka membutuhkan anak itu.

Pixie jahat Opal koboi ingin menghancurkan dunia. Menghentikannya berarti membersihkan nama kapten Holly Short yang dituduh membunuh, membebaskan si kurcaci kleptomaniak dari penjara, dan meyakinkan centaur supercerdas bahwa ia tidaklah tahu segalanya.

Kalau saja Artemis bisa mengingat mengapa makhluk makhluk aneh ini sangat bergantung padanya...
My Review:
Ini buku seru sekali deh, seriusss.

Ngomong-ngomong, waktu saya belum kenalan dengan Opal Koboi, saya penasaran sekali dengan buku keempat dari Artemis Fowl ini…

Abarat Review




***




"Lebih baik mencari tahu kalau waktunya memang sudah tiba. Segala sesuatu ada Jam-nya"


...


Biarlah Jam-Jam yang akan datang membawa peristiwanya sendiri nanti.


(Abarat, hlm. 408-409)



Blurb


Peristiwanya berawal di tempat paling membosankan di dunia: Chickentown, U.S.A. Kota yang lebih banyak dihuni ayam daripada manusia. Di sinilah Candy Quackenbush tinggal. Dan ia bertanya-tanya, seperti apakah masa depannya nanti.

Jawabannya datang secara tak terduga. Pertemuan mendadak dengan John Mischief (dia punya 7 saudara yang tinggal di tanduk-tanduk di kepalanya), dan kemunculan Laut Izabella entah dari mana, membawa Candy ke dunia lain.

Dunia bernama ABARAT: sebuah kepulauan luas yang tiap pulaunya memiliki jam berbeda. Antara lain Pulau Yebba Dim Day yang jamnya selalu Jam Delapan Malam, Pulau Jam Tiga Siang yang hangat, tempat naga-naga berkeliaran, sampai Pulau Gorgossium alias Pulau Tengah Malam yang dihuni oleh Christopher Carrion, Pangeran Tengah Malam yang suka meneror orang dengan mimpi-mimpi buruk.

Candy berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mendapat teman-teman baru dan musuh-musuh aneh---serangga-serangga bermesin, kupu-kupu raksasa, kucing-kucing belang, manusia dari lumpur, tukang sihir jahat dan budaknya yang ketakutan---dan akhirnya ia sadar: Ia pernah berada di sini.

Pasti ada sebabnya, kenapa ia berada di sini, ia "dibawa" ke Abarat untuk menyelamatkan kepulauan ini dari kekuatan-kekuatan jahat yang sedang menggeliat bangkit di jantungnya. Kekuatan-kekuatan yang lebih tua daripada Waktu, dan lebih jahat daripada apa pun yang pernah dilihat Candy.

Aneh rasanya, menjadi pahlawan di sini. Tapi Abarat memang dunia aneh.

Dan di sini segala sesuatu mungkin terjadi.

My Review


 

Sejak dulu sudah kepingin baca Abarat, sayang bukunya sudah mulai langka. Saat coba-coba baca ebooknya sedikit, eh sepertinya seru banget. Coba-coba baca review teman-teman, ada dapat info kalau bukunya ternyata ada ilustrasinya, berwarna-warni pula. Haduh jadi makin kepingin.



Dan, walaupun harus menderita ongkir yang sangat mahal, syukurlah akhirnya saya punya Abarat juga. Ternyata bukunya cantik sekali. Langsung deh dibaca.

So, dari blurb di atas, yang saya comot dari bukunya, sudah terbayang kan ya ceritanya seperti apa. Seperti kebanyakan kisah fantasi lainnya, pahlawan kita di buku ini juga masuk ke sebuah dunia lain. Cuma cara masuknya saja yang beda-beda. Kalau Candy, masuknya lewat laut yang dikenal dengan nama Laut Izabella. Di dunia manusia normal, Candy hanyalah anak sekolahan biasa. Tapi di dunia Abarat, lain ceritanya.

Di buku pertama dari seri Abarat ini, bersama Candy, kita akan diajak mengenal dunia Abarat yang aneh, dengan pulau-pulau yang memiliki jamnya sendiri, dengan penghuni-penghuninya yang tak kalah anehnya, dengan masalah yang sedang terjadi di sana, dan sebagainya.

Meskipun baru tiba di Abarat, Candy berani sekali berkeliling sendiri. Sama sekali tidak takut melihat penampilan penduduk Abarat yang aneh dan cenderung seram kalau menurut saya. Candy tidak mengkhawatirkan masalah-masalah seperti dia nanti makan apa atau tidur di mana. Kalau saya, mungkin baru melihat John Mischief saja sudah pingsan duluan. Jadi pesan moral pertama yang saya tangkap, jangan menilai penduduk Abarat dari penampilannya, XD

Ngomong-ngomong, menurut saya, karakter kepahlawanan Candy mulai terlihat di buku pertama ini. Saya bahkan mulai curiga tentang siapa sebenarnya Candy. Jangan-jangan dia adalah ... . Oke, nanti saja. Sekarang buku kedua Abarat mulai memanggil-manggil untuk dibaca. Mumpung masih hari minggu, semoga bisa kelar membacanya hari ini.

 

At last, menurut saya, Abarat adalah tipe buku yang bisa meningkatkan minat baca, hanya dengan melihat judul dan covernya doang. Ceritanya juga asik, dengan syarat kalian yang membaca suka kisah fantasi yang penuh dengan makhluk-makhluk aneh di luar logika. Ilustasinya juga keren, walaupun rada seram. So,  4 dari 5 bintang untuk Abarat. I really liked it  ('▽'ʃƪ) ♥

***


Judul: Abarat | Seri: Abarat #1 | Pengarang: Clive Barker|Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa IndonesiaCetakan pertama, Jakarta, Juni 2003, 440 halaman, 23 cm | Alih bahasa: Sutanty Lesmana | Status: Owned Book | Rating saya: 4 dari 5 bintang




Comments

Popular posts from this blog

Proyek Baca Buku Perpustakaan 2016: Master Post

[#HUT5BBI] Giveaway Hop #BBIGiveaway

Enter The Magical Realm: Post Apocalyptic & Giveaway