Artemis Fowl and The Opal Deception #BookReview

Image
***
Judul: Artemis Fowl and The Opal Deception | Pengarang: Eoin Colfer | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan II, April 2018, 368 hlm, 20 cm | Status Owned Book, Beli Online @HobbyBukuShop, Diterima tanggal 16 Juli 2018 | Rating saya: 4 dari 5 bintang
***
Blurb:
Kaum Peri menghapus semua pengetahuan tentang dunia mereka dari ingatan satu satunya manusia yang mereka takuti : kriminal genius Artemis Fowl. Tapi sekarang mereka membutuhkan anak itu.

Pixie jahat Opal koboi ingin menghancurkan dunia. Menghentikannya berarti membersihkan nama kapten Holly Short yang dituduh membunuh, membebaskan si kurcaci kleptomaniak dari penjara, dan meyakinkan centaur supercerdas bahwa ia tidaklah tahu segalanya.

Kalau saja Artemis bisa mengingat mengapa makhluk makhluk aneh ini sangat bergantung padanya...
My Review:
Ini buku seru sekali deh, seriusss.

Ngomong-ngomong, waktu saya belum kenalan dengan Opal Koboi, saya penasaran sekali dengan buku keempat dari Artemis Fowl ini…

Cress Review


***




"Tatkala gadis itu masih kecil, sang penyihir mengurungnya di menara yang tidak memiliki pintu dan tangga."


(Cress, hlm. 6)



Gambar gadis yang memiliki rambut emas yang sangat panjang....pasti buku ketiga dari seri The Lunar Chronicles ini menceritakan tentang Rapunzel. ^^


Untuk pertama kalinya, saya tidak merasa kalau Cress merupakan versi retelling yang sempurna dari dongeng yang menjadi asal-usulnya. Itu sebelum saya menyadari, kalau kutipan-kutipan dongeng asli yang nyempil di buku ini sepertinya asing bagi saya. Kecuali kutipan yang saya pajang di atas.


Kalau dipikir-pikir, sepertinya ini karena saya belum pernah membaca dongeng asli Rapunzel. Saya kenal Rapunzel hanya dari film animasi Barbie dan Disney. Jadi kalau buku ini dibandingkan dengan kedua film animasi itu, sensasinya sepertinya tidak memberikan efek yang sama bagi saya. Terutama di bagian rambut, *eh*.


Tapi ceritanya sendiri tetap seru. Apa yang bisa ditemukan di dongeng Rapunzel, bisa ditemukan di Cress. Menyenangkan sekali saat saya menemukan bagaimana menara tinggi Rapunzel diganti dengan "menara lain" yang juga sangat tinggi dan tidak memiliki tangga. Siapa yang berperan sebagai penyihir yang menyekap Rapunzel di menara. Bagaimana ketika Rapunzel bertemu dengan pangerannya (si pangeran jelas lebih mirip Flynn Rider di film Rapunzel versi Disney daripada Pangeran Stefan di film Rapunzel versi Barbie). Bagaimana saat Rapunzel mengetahui siapa orang tua kandungnya (di bagian ini saya juga ikut tertipu mentah-mentah seperti Rapunzel). Dan terakhir, bagaimana Rapunzel mengalahkan si penyihir  (kalau di bagian ini saya kurang setuju dengan versi retelling-nya).


Oke, saya rasa cukup dengan serba-serbi retelling-nya dan sekarang kita kembali ke cerita petualangan Cinder dan kawan-kawan. Saya rasa blurb di belakang bukunya sudah cukup untuk memberi tahu kita tentang apa usaha Cinder berikutnya untuk menyelamatkan Bumi dan Bulan dari kekuasaan Levana,




Blurb:


Cinder dan Kapten Thorne masih buron. Scarlet dan Wolf bergabung dalam rombongan kecil mereka., berencana menggulingkan Levana dari takhtanya.


Mereka mengharapkan bantuan dari seorang gadis bernama Cress. Gadis itu dipenjara di sebuah satelit sejak kecil, hanya ditemani oleh beberapa netscreen yang menjadikannya peretas andal. Namun kenyataannya, Cress menerima perintah dari Levana untuk melacak Cinder, dan Cress bisa menemukan mereka dengan mudah.


Sementara itu di Bumi, Levana tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu pernikahannya dengan Kaisar Kai.



Jadi setelah bertemu dengan si Tudung Merah dan "serigala"-nya, Cinderella modern kita sekarang bertemu dengan Rapunzel. Dalam petualangannya, Cinder membutuhkan bantuan Cress untuk menjalankan rencananya yang kedengarannya mustahil untuk dilaksanakan. Tapi dengan kemampuan yang dimiliki Cress, Cinder sepertinya masih punya harapan. Asalkan setelahnya dia bisa selamat menghadapi penyihir jahat yang jelas tidak mau tawanan berharganya diambil begitu saja oleh Cinder.


Finally, saya senang sekali dengan peran yang dimainkan oleh Cress dalam petualangan Cinder, terutama di bagian dia yang paling tidak pandai beinteraksi sosial tapi punya otak yang paling brilian. Setiap anggota tim Cinder memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dan mereka saling melengkapi satu sama lain. Termasuk Pangeran Kai yang sepertinya tidak bisa melakukan apa-apa kecuali pandai berbicara. Dan memang itulah yang diperlukan dari seorang Pangeran yang menghadapi masalah seperti Kai.


Sejauh ini, seri The Lunar Chronicles favorit saya tetap Cinder. Pasangan Pangeran dan Putri favorit saya tetap Cinder dan Pangeran Kai. Dan  4 dari 5 bintang untuk Cress (ga nyambung). Yeap, I really liked it.


***


Judul: Cress| Series: The Lunar Chronicles #3 | Pengarang: Marissa Meyer | Penerbit: Spring | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Mei 2016, 576 halaman, 20 cm | Penerjemah: Jia Effendie | Status: Owned book | Beli di: Online @shansterID | Rating saya: 4 dari 5 bintang

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Proyek Baca Buku Perpustakaan 2016: Master Post

[#HUT5BBI] Giveaway Hop #BBIGiveaway

Enter The Magical Realm: Post Apocalyptic & Giveaway