***




Buku mengubah takdir hidup orang-orang.


(Rumah Kertas, hlm. 1)



Blurb:


Seorang profesor sastra di Universitas Cambridge, Inggris, tewas ditabrak mobil saat sedang membaca buku. Rekannya mendapati sebuah buku aneh dikirim ke alamatnya tanpa sempat ia terima: sebuah terjemahan berbahasa Spanyol dari karya Joseph Conrad yang dipenuhi serpihan-serpihan semen kering dan dikirim dengan cap pos Uruguay. Penyelidikan tentang asal usul buku aneh itu membawanya (dan membawa pembaca) memasuki semesta para pecinta buku, dengan berbagai ragam keunikan dan kegilaannya!

My Review


Judul yang menarik hati dan sampul yang keren. Saya suka.

Sayangnya, untuk ukuran buku setipis ini, saya merasa lama sekali baru bisa selesai membacanya. Ketika membaca buku ini, saya sedang kena morning sickness, alhasil dalam penglihatan saya, bahasanya jadi tampak berbelit-belit. Selain itu, nama-nama tokoh serta nama tempat-tempatnya yang terasa asing juga ikut jadi penyebab. Saya jadi tidak sepenuhnya paham dengan apa yang saya baca, sehingga saya memutuskan untuk membacanya sekali lagi, dan yaaa, akhirnya sepertinya saya paham.

Jadi seperti yang blurb-nya bilang, ini adalah cerita tentang para pecinta buku dengan berbagai ragam keunikan dan kegilaannya. Endingnya suram sih kalau menurut saya. Tapi setidaknya saya senang, karena sepemahaman saya, buku ini menegaskan kalau pecinta buku  itu salah duanya adalah para kolektor dan  para pembaca. Soalnya selama ini, di lingkungan tempat tinggal saya, para pecinta buku itu seolah-olah diharuskan untuk bisa menulis dan atau bisa bercerita di depan umum. Dua keterampilan yang tidak saya miliki, hahhah. Jadinya saya seperti merasa tersisih dari komunitas buku yang ada di kota saya. Saya cuma suka membaca, koleksi saya lumayan banyak, dan timbunan saya juga, #eh.

Ngomong-ngomong, kalau dibandingkan dengan kisah para pecinta buku yang ada di buku ini, saya jadi merasa tidak ada apa-apanya. Kecintaan mereka terhadap buku sudah dalam tingkatan yang bisa dibilang gila. Salah satu pecinta buku ini mempunyai buku yang memenuhi setiap sudut rumahnya, bahkan sampai ke kamar mandi. Dia juga menyusun sistem katalog sendiri untuk mengelompokkan buku-bukunya, berdasarkan hubungan "kekerabatan" antar penulis. Namun kerja kerasnya dalam menyusun sistem katalog hancur dalam sekejap karena kecerobohannya sendiri. Sampai akhirnya dia nyaris tidak bisa memaafkan dirinya sendiri dan melakukan sesuatu terhadap koleksi buku-bukunya yang berharga yang, mungkin, susah sekali dimaafkan oleh para pecinta buku manapun.

At last, membaca akhir buku ini membuat saya merasa ngeri sendiri saat membayangkan tentang bagaimana si pecinta buku akhirnya memutuskan memperlakukan buku-bukunya. Tapi kalau dipikir-pikir, yaaaa, itulah uniknya. Seperti saya mungkin, yang lebih suka memberikan buku kepada teman daripada meminjamkannya. Hanya karena saya tidak sanggup menanggung akibat dari proses meminjam itu sendiri yang kemungkinan berakhir dengan rusaknya buku-buku saya atau malah tidak kembali sama sekali. Jadi mending saya kasihkan saja sekalian, setidaknya dengan memberikannya, saya tidak perlu was-was lagi menunggu nasib buku saya, karena buku itu sudah menjadi milik mereka, hahhah.

So, 3 dari 5 bintang untuk buku ini. I liked it.

***


Judul: Rumah Kertas | Pengarang: Carlos Maria Dominguez | Penerbit: Marjin Kiri | Edisi: Bahasa Indonesia, 76 halaman | Rating saya: 3 dari 5 bintang