Judul: Artemis Fowl and The Arctic Insident | Pengarang: Eoin Colfer | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan II, April 2018 |  Jumlah halaman: 312 halaman | Status: Owned book | Tanggal beli: 16 Juli 2018 | Tempat beli: Online @ HBS | Price: IDR 60,000 | Rating saya: 4 dari 5 bintang
| Bisa dibeli di belbuk.com dan bukabuku.com

***

Blurb


Artemis Fowl, otak kriminal paling pintar dan berbahaya di dunia, meski baru berusia 13 tahun kembali berpetualang. Ia mendapate-mail video yang berisi permintaan tebusan. Korban penculikannya: ayahnya yang hilang dan dinyatakan meninggal di Arktik, Kutub Utara.

Ketika bergegas menyelamatkan sang Ayah, Artemis lagi-lagi harus berurusan dengan Kapten Short dan Kaum Peri. Ia dituduh menjadi dalang di balik perdagangan senjata ilegal kelas A di Dunia Bawah. Artemis menyangkal dan dengan cerdik membuat kesepakatan: ia membantu Kaum Peri menangkap biang kerok sesungguhnya bila mereka mau membantunya membebaskan ayahnya.

My Review


Asiik....Artemis Fowl dicetak ulang, cover barunya cakep sekali \^_^/

Jadi, di sini Artemis sudah berusia 13 tahun. Kalau di buku pertama Artemis yang cari gara-gara dengan para peri, sekarang kaum peri yang cari gara-gara dengan Artemis. Haduh, padahal Artemis sedang sibuk menyusun rencana untuk menyelamatkan ayahnya. Tapi otaknya dengan cepat mengubah gangguan para peri itu menjadi sebuah keberuntungan.

Well...simbiosis mutualisme ini membuat Artemis dan para peri menjadi akur dan untuk sementara melupakan perseteruan mereka. Berkali-kali mereka saling menyelamatkan satu sama lain. Musuh yang mereka hadapi baik dari kaum peri maupun dari pihak manusia sama-sama mempunyai otak kriminal yang sangat berbahaya. 

Lalu bagaimana kelanjutan kisahnya? Berhasilkah mereka mengalahkan musuh masing-masing? Yaaah, seperti biasa silakan baca sendiri bukunya :D

Yang pasti saya masih suka sekali dengan buku ini. Langsung habis sekali baca, walaupun lama baru bisa menulis review-nya, hahhah. Bukunya tidak tebal-tebal amat dan ceritanya seru. Sayang sekali saya masih merasa kalau bahasanya agak kaku. Mungkin ini karena otak saya tidak bisa mencerna istilah science fiction yang ada di buku ini, sama seperti Komandan Root dan Butler, wkwkwk.

At last, 4 dari 5 bintang untuk buku kedua dari Artemis Fowl. I really liked it <3 <3 <3 <3

***