Artemis Fowl and The Opal Deception #BookReview

Image
***
Judul: Artemis Fowl and The Opal Deception | Pengarang: Eoin Colfer | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan II, April 2018, 368 hlm, 20 cm | Status Owned Book, Beli Online @HobbyBukuShop, Diterima tanggal 16 Juli 2018 | Rating saya: 4 dari 5 bintang
***
Blurb:
Kaum Peri menghapus semua pengetahuan tentang dunia mereka dari ingatan satu satunya manusia yang mereka takuti : kriminal genius Artemis Fowl. Tapi sekarang mereka membutuhkan anak itu.

Pixie jahat Opal koboi ingin menghancurkan dunia. Menghentikannya berarti membersihkan nama kapten Holly Short yang dituduh membunuh, membebaskan si kurcaci kleptomaniak dari penjara, dan meyakinkan centaur supercerdas bahwa ia tidaklah tahu segalanya.

Kalau saja Artemis bisa mengingat mengapa makhluk makhluk aneh ini sangat bergantung padanya...
My Review:
Ini buku seru sekali deh, seriusss.

Ngomong-ngomong, waktu saya belum kenalan dengan Opal Koboi, saya penasaran sekali dengan buku keempat dari Artemis Fowl ini…

A Storm of Swords Review



Judul: A Strom of Swords - Amukan Baja | Seri: A Song of Ice and Fire #3 | Pengarang: George R.R. Martin | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Jakarta, November 2016 | Penerjemah: Angelic Zaizai | Penerbit: Fantasious | Jumlah halaman: IX + 1222 halaman | Beli di: HobbyBukuShop Bisa juga dibeli di: bukabuku.com |
Rating saya: 4,5 dari 5 bintang

***

Blurb:


“Setiap orang harus mati, Jon Snow. Tetapi, ia harus hidup terlebih dahulu.” 

Perebutan takhta masih terus berlanjut. Dari lima kandidat yang memperebutkan kekuasaan, satu sudah mati, satu lagi tidak disukai, sisanya memasang mata dan telinga untuk menunggu peluang. Joffrey Baratheon duduk di atas Iron Throne dengan gelisah. Saingannya yang paling sengit, Stannis Baratheon, berdiri di kejauhan dengan sisa-sisa harga diri dan pasukan. Robb Stark muda masih kokoh menguasai Utara dari benteng keluarganya. Sementara itu, sang Ratu penguasa naga yang berada di pengasingan, Daenerys Targaryen, siap melintasi dunia menyongsong takdirnya.

Masing-masing klan merasa berhak menduduki kursi penguasa, tanpa sadar ada kekuatan-kekuatan lain di luar Westeros yang juga mengincar negeri tujuh kerajaan itu. Pasukan barbar dari batas terluar peradaban, dan tentara gaib yang bangkit dari kematian. Karena masa depan negeri bergantung pada keseimbangan, tidak ada satu pun yang beristirahat sampai Tujuh Kerajaan meledakkan badai pedang yang sesungguhnya. 

My sinopsys


Yeap, perebutan takhta masih berlanjut. Raja Joffrey, Raja Robb, Raja Stannis, dan Ratu Daenerys masih mengklaim diri mereka sendiri sebagai raja dan ratu. Dan mau tidak mau, mereka harus membuat lawan bertekuk lutut.

Raja Joffrey, dengan sokongan dari Klan Lannister tampaknya berada di atas angin. Paska mengalahkan Raja Stannis dalam Pertempuran Air Hitam, Raja Joffrey mulai mengincar Raja Robb. Sayangnya, Raja Robb sangat kuat dan melindungi dirinya dengan baik. Klan Lannister sepertinya harus memikirkan cara lain untuk membuat Raja Robb takluk.

Raja Robb sendiri berencana berperang dengan Klan Greyjoy yang sudah mengkhianatinya. Sayangnya, perang tersebut harus ditunda karena Klan Frey menawarkan perbaikan hubungan yang sebelumnya telah dirusak oleh Robb. Klan Frey bersedia tetap mendukung sang Raja Utara asalkan pamannya, Edmure Tully bersedia menikah dengan salah satu gadis Frey. Raja Robb beserta pasukannya pun bertolak ke kastil Frey untuk melangsungkan pernikahan.

Sementara itu, Raja Stannis masih berkutat dengan para sekutunya tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Mellisandre, si pendeta api, tetap yakin kalau mereka harus membangunkan seekor naga agar bisa memenangkan pertarungan. Namun, untuk membangunkan sang naga, seseorang harus dikorbankan. Parahnya, seseorang itu masih terhitung sebagai kerabat raja. Davos yang sangat setia kepada Raja Stannis tidak mau sang raja terkena kutukan karena membunuh kerabat sendiri. Dia mati-matian mencegah raja agar jangan sampai membunuh orang yang tidak bersalah. Sampai Davos melakukan sebuah rencana yang membuatnya beresiko kehilangan kepala.

Ratu Daenerys tampaknya juga berada di atas angin. Satu persatu kota-kota budak ditaklukkannya. Namun, ada yang mencurigakan dari para pengikutnya, meskipun dari itu satu persatu kebenaran mulai terungkap. Termasuk kebenaran menyakitkan dari sejarah Klan Targaryen yang mau tidak mau harus diterima oleh sang Ratu.

Dan jangan lupakan juga Tembok Besar, tembok yang membentengi 7 Kerajaaan dari para manusia liar (widling) dan makhluk apapun di luar sana. Saudara Hitam yang menjaga tembok mengalami masalah dengan para widling yang bersiap-siap untuk mendobrak masuk. Para widling ini ingin kembali masuk ke wilayah 7 Kerajaan karena lari dari sesuatu. Namun, mereka tidak tetap tidak mau tunduk kepada raja manapun dan masih menginginkan kemerdekaan mereka. Nah lo bagaimana ini? Ingin tinggal di wilayah kerajaan orang tapi tidak mau tunduk pada peraturan dan tetap mau bertingkah seenaknya saja.

Maester Aemon sudah mengirimkan surat kepada para Raja. Adakah diantara mereka yang mau berbaik hati menolong para Saudara Hitam untuk melawan para widiling ini? Ataukah para Raja semua masing-masing sibuk sendiri dengan perang masing-masing? Tanpa menyadari bahwa ada musuh lain yang jauh lebih berbahaya di luar sana, yang membuat takut bahkan para widling sekalipun.

My thought


Akhirnyaaaaaa, saya bisa menyelesaikan buku ketiga dari seri A Game of Thrones ini. *menangis terharu*. Bukunya bagus banget. Tapi tebalnya minta ampun. Saya memerlukan waktu kurang lebih setengah tahun untuk menyelesaikannya, hahhah, *tutupmukapakaibantal*. 

Seperti judulnya, Amukan Baja, banyak yang terbunuh di buku ini. Si baja alias si pedang memang benar-benar mengamuk. Meskipun saya tahu kalau si anu atau si ini bakalan mati, tapi tetap saja saya mangap ketika sampai di adegan tersebut. Saya bahkan sempat terkena book hangover singkat saat sampai di chapter Pernikahan Merah, seakan meratapi kenapa tokoh ini kematiannya harus setragis itu. *ngesotkepojokan*.

Dan seakan-akan mewakili perasaan saya yang ikutan tercabik akibat amukan baja, *apacoba*, buku A Storm of Swords saya juga babak belur. Cover depannya lepas dan beberapa halaman di dalamnya robek. Padahal harga bukunya mahal, *hiks*. Siapa lagi pelakunya kalau bukan gadis kecil saya yang cantik yang terlalu bersemangat membolak-balik buku yang diletakkan sembarangan oleh emaknya. Jadi yah, yang salah saya sih, hahhah. Gara-gara penasaran dengan kelanjutan ceritanya, saya sampai lalai meletakkan itu buku sembarangan.*nyesel*.

Cover dan typo


Oke, balik lagi ke buku A Storm of Swords. Ada banyak kesalahan pengetikan di buku ini, terutama di bab-bab terakhir. Yah kita maklumi saja lah ya. Untuk ukuran buku setebal ini, kasian juga editornya, pasti capek, hohoho.

Terus saya suka covernya. Baik desain sampul maupun jenis kertasnya. Sampulnya hitam dan bergambar singa lambang Klan Lannister. Jenis kertasnya seperti ada embosnya gitu. Sayangnya kertasnya tidak mempan direkatkan dengan selotip. Saya masih memikirkan cara bagaimana menyambung sampul depan yang robek itu, hahhah.


Di bagian akhir buku, ternyata masih ada perkenalan para klan-klan yang ada di dunia 7 Kerajaan. Kebanyakan saya skip sih, puyeng bacanya, ahaha.

Pelajaran yang dapat diambil


Finally, ada satu kutipan yang sangat berkesan dari buku tebal ini. Kutipan itu adalah,

"Aku berusaha memenangkan takhta untuk menyelamatkan kerajaan padahal aku seharusnya menyelamatkan kerajaan untuk memenangkan takhta.". ---hlm. 1097


Keren ya kutipannya. Hayo tebak Raja/Ratu mana yang kira-kira mengucapkan kata-kata di atas?

Saya rasa kutipan di atas benar. Aksi nyata dulu kan ya? Bukan janji dulu.

Walaupun kadang-kadang di dunia nyata (bahkan dunia rekaan di buku ini pun) hal itu tidak menjamin. Ada saja akal para orang-orang jahat untuk mengalahkan orang-orang baik.

Di dunia A Song of Ice and Fire, orang-orang baik yang tetap berani dan setia untuk tetap berbuat baik, berjatuhan bagaikan daun di musim gugur. Tampaknya yang bertahan hanyalah orang-orang jahat, kejam, dan para pelanggar sumpah. Tapi seperti yang disampaikan oleh salah satu tokoh di buku ini, yaitu si Littlefinger, kita harus bisa bermain agar tetap bisa bertahan.

Sekarang saya baru paham kenapa seri ini juga dikenal dengan nama A Game of Thrones. Tipe permainan yang saya enggan untuk masuk ke dalamnya. Karena kekeuh kepada kebaikan saja tidak cukup. Kita juga harus lebih cerdas daripada lawan, kita harus bisa bermain, bahkan jika permainan itu membuat kita tampak seperti orang jahat. Karena kalau tidak, taruhannya sangat besar. Kalau orang-orang baik kalah cerdik, maka orang-orang baik itu akan mati konyol dan orang-orang jahatlah yang akan memenangkan permainan. 

My rating


So, saya beri 4,5 dari 5 bintang untuk buku ketiga dari seri A Song of Ice and Fire ini. Untuk kisah serunya, untuk pesan moralnya dan untuk chapter-chapternya yang mampu membuat saya sampai mangap berkali-kali XD

                                           ***




Comments

Popular posts from this blog

Proyek Baca Buku Perpustakaan 2016: Master Post

[#HUT5BBI] Giveaway Hop #BBIGiveaway

Enter The Magical Realm: Post Apocalyptic & Giveaway