Artemis Fowl and The Opal Deception #BookReview

Image
***
Judul: Artemis Fowl and The Opal Deception | Pengarang: Eoin Colfer | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan II, April 2018, 368 hlm, 20 cm | Status Owned Book, Beli Online @HobbyBukuShop, Diterima tanggal 16 Juli 2018 | Rating saya: 4 dari 5 bintang
***
Blurb:
Kaum Peri menghapus semua pengetahuan tentang dunia mereka dari ingatan satu satunya manusia yang mereka takuti : kriminal genius Artemis Fowl. Tapi sekarang mereka membutuhkan anak itu.

Pixie jahat Opal koboi ingin menghancurkan dunia. Menghentikannya berarti membersihkan nama kapten Holly Short yang dituduh membunuh, membebaskan si kurcaci kleptomaniak dari penjara, dan meyakinkan centaur supercerdas bahwa ia tidaklah tahu segalanya.

Kalau saja Artemis bisa mengingat mengapa makhluk makhluk aneh ini sangat bergantung padanya...
My Review:
Ini buku seru sekali deh, seriusss.

Ngomong-ngomong, waktu saya belum kenalan dengan Opal Koboi, saya penasaran sekali dengan buku keempat dari Artemis Fowl ini…

Fangirl #Review

Bismillahirrahmanirrahim ^_^


Judul buku: Fangirl | Pengarang: Rainbow Rowell | Penerbit: Spring | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, November 2014 | Dimensi buku: 456 hlm; 20 cm| Status: Pinjam di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan  Kabupaten Hulu Sungai Utara | Bisa dibeli di: bukabuku.com ^^



Blurb:



Cath dan Wren—saudari kembarnya—adalah penggemar Simon Snow. Oke, seluruh dunia adalah penggemar Simon Snow, novel berseri tentang dunia penyihir itu. Namun, Cath bukan sekadar fan. Simon Snow adalah hidupnya!

Cath bahkan menulis fanfiksi tentang Simon Snow menggunakan nama pena Magicath di Internet, dan ia terkenal! Semua orang menanti-nantikan fanfiksi Cath.

Semuanya terasa indah bagi Cath, sampai ia menginjakkan kaki ke universitas. Tiba-tiba saja, Wren tidak mau tahu lagi tentang Simon Snow, bahkan tak ingin menjadi teman sekamarnya! 


Dicampakkan Wren, dunia Cath jadi jungkir balik. Sendirian, ia harus menghadapi teman sekamar eksentrik yang selalu membawa pacarnya ke kamar, teman sekelas yang mengusik hatinya, juga profesor Penulisan Fiksi yang menganggap fanfiksi adalah tanda akhir zaman.

Seolah dunianya belum cukup terguncang, Cath juga masih harus mengkhawatirkan kondisi psikis ayahnya yang labil. 


Sekarang, pertanyaan buat Cath adalah: mampukah ia menghadapi semua ini? 


My Review: 

Nah, gara-gara membaca novel ini, saya jadi lebih tahu tentang dunia fangirl dan fanfiksi. Sebelumnya, kalau membaca kedua istilah ini, saya hanya membaca sambil lalu karena fan artinya ya... fan. 

Ternyata fangirl dan fanfiksi bukan hanya sekedar "fan", tapi jauh lebih dari itu. 

Cath, adalah seorang fangirl yang hidup di dalam dunianya sendiri. Dia penggemar fiksi Simon Snow. Dan dengan bakat menulisnya yang luar biasa, Cath menulis fanfiksi Simon Snow dan mengunggahnya di blog. Tidak tanggung-tanggung, Cath mendapat puluhan ribu penggemar yang selalu menantikan post terbarunya. 

Ya, Cath punya banyak teman dan penggemar di dunia maya, tapi tidak di dunia nyata. Dia bahkan kesulitan menyapa Reagan, teman sekamarnya. Cath bahkan sakit perut hanya dengan memikirkan bagaimana caranya menuju ruang makan, di mana dimulainya antriannya dan sebagainya.

Berbeda dengan kembarannya, Wren, yang dengan mudah beradaptasi menjadi cewek keren. Cath tetaplah seorang cewek "aneh". 

Karakter Cath mungkin bukanlah karakter yang cocok dijadikan idola karena sifat tertutupnya yang berlebihan. Tapi saya suka dengan Cath. Saya tahu bagaimana rasanya menjadi cewek kuper. Memikirkan untuk beradaptasi dengan hal yang baru saja sudah tak nyaman, hahhah. 

Nah, untunglah ada Levi. Cowok yang sepertinya adalah pacar Reagan karena dia sering datang ke kamar bersama Reagan. Levi tahu cara membuat Cath merasa nyaman. 

Levi ini adalah tipe cowok yang selalu tersenyum dan baik kepada siapa saja. Mungkin hampir semua orang suka dengan Levi. Tapi saya tidak terlalu suka. Cowok-cowok seperti Levi cenderung membuat cewek-cewek salah paham dengan arti senyuman dan kebaikan hatinya itu, *ehm*, *bukan pengalaman pribadi*, *towel someone* XD

Tapi ada juga cowok bernama Nick yang satu kelas dengan Cath. Nick ini adalah tipe cowok perpustakaan. Sepertinya cowok perpustakaan adalah teman yang cocok untuk Cath. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di perpustakaan untuk menulis bareng sebuah cerita fiksi. 

Meskipun cenderung tertutup terhadap orang baru, Cath sangat peduli dengan keluarganya. Cath tetap peduli dengan kembarannya, Wren, meskipun Wren memutuskan untuk menjadi cewek keren. Cath sangat menyayangi ayahnya yang emosinya sedikit "tidak biasa". Cath bahkan berencana untuk tidak melanjutkan kuliah dan pulang untuk menjaga ayahnya. 

Cath hanya ingin tetap berdiam di zona nyamannya. Menolak perubahan bahkan jika perubahan itu menyangkut ibu kandungnya yang dulu meninggalkan mereka.

Nah, di luar dugaan saya, kehidupan Cath bersama fanfiksinya ini ternyata menarik untuk dibaca. Cerita kehidupan Cath diselingi dengan kisah fanfiksi yang ditulisnya. Saya langsung suka ketika membaca halaman pertama. Meskipun ditengah-tengah sempat merasa bosan karena bukunya cukup tebal.

Saya sedikit heran dengan endingnya, somehow, endingnya seperti cerita yang putus begitu saja. Tetapi keheranan saya berganti menjadi "wow" setelah membaca epilognya. Keren deh.

IMO, Fangirl merupakan bacaan yang ringan namun memberikan sindiran yang ditulis dengan cantik. 

Somehow, saya merasa ini adalah sebuah sindiran bagi penulis fanfiksi yang mungkin menganggap kalau menulis dengan memakai karakter dan dunia penulis lain itu sah-sah saja selama kita tidak mengambil keuntungan dari sana. 

Kalau menurut saya sih, juga tidak apa-apa, hahhah. Menurut pendapat sepihak saya, kemunculan fanfiksi dari sebuah fiksi menandakan bahwa fiksi tersebut sangat bagus sehingga mendorong orang lain untuk ikut "terjun" ke dalamnya. 

Tetapi kita tidak tahu bagaimana perasaan penulisnya ketika mengetahui dunia dan karakter-karakter yang dia ciptakan diceritakan ulang dengan cara yang berbeda oleh orang yang mengaku penggemar karyanya. 

Mungkin seperti yang dirasakan Cath. Merasa sakit hati karena tulisan yang dia tulis bersama temannya ternyata diklaim ditulis sendiri oleh temannya tersebut. Tetapi Cath sendiri menolak fanfiksinya disebut sebagai sebuah plagiarisme oleh Profesor Piper. Padahal, IMO, apa yang dilakukan Cath terhadap penulis asli Simon Snow mungkin kurang lebih sama dengan apa yang dilakukan oleh teman Cath tersebut kepadanya.

Ngomong-ngomong soal fanfiksi, dulu saat membaca Harry Potter, saya sering mengkhayal masuk ke dalam dunia penyihir itu. Berkhayal memainkan adegan-adegan di petualangan Harry dengan menjadi salah satu karakter baru di sana. Hanya seri Harry Potter yang mampu membuat saya ingin masuk ke Hogwarts, tidak peduli meskipun ada Voldemort di sana, haha. Harry Potter memang keren. Salah satu seri terfavorit sepanjang masa, *pelukHarry*, *eh*. 

Dan ngomong-ngomong lagi, kalau saya menuangkan khayalan saya itu ke dalam tulisan, mungkin akan menjadi fanfiksi juga ya, huehehe.

Selain sindiran tentang fanfiksi, saya juga merasa kalau Fangirl memberikan wejangan tentang bagaimana seharusnya cewek introvert seperti Cath bersikap, *eh*. Kedamaian hati akan didapat jika kita mau berdamai dengan lingkungan sekitar, *pas tidak ya nasihat bijaknya*, wkwkwk. 

At last, membaca Fangirl terasa menyenangkan bagi saya. Saya kasih 3 dari 5 bintang deh untuk Fangirl. I liked it. Alhamdulillah ^_^


***
My 10th book for



Comments

  1. Menarik juga ceritanya.
    Tapi kebanyakan fangirl kaya Cath gak sih kalo sudah punya dunia sendiri sulit beradaptasi :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kebanyakan memang seperti itu, tapi lewat tokoh Cath pula, pembaca diajari bagaimana caranya beradaptasi, tanpa menggurui. Itulah asiknya fiksi ^^

      Delete
  2. Aku kok jadi terinspirasi pengen punya blog khusus fiksi juga. Hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, kalau membaca bukunya pasti makin terinspirasi lagi ^^

      Delete
  3. wow...aku blm pernah baca buku fanfiksi kayak gini euyyy...trnyata menarik juga yaa..huhu..
    makasih ira inpohnya yaaak

    ReplyDelete
  4. Sepertinya ya org2 sdg ramai memberi nama levi untuk karakter ya. Dan penggambarannya mirip2. Hihi. Sdh hampir 10 nama karakter tmsk buku ini yg punya nama itu. Eh, ak kok jd nyurcol nama. Haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin yang lain terinspirasi dari Levi yang ini, dia karakter yang lovable banget soalnya, hihi

      Delete
  5. Ini kok seru banget, jadi pengen baca bukunya buat mengetahui cerita lengkapnya ini.

    Memang lah dunia nyata berbeda dengan maya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk dibaca. Ini salah satu buku populer yang sering berseliweran di post-post para booklover :D

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Proyek Baca Buku Perpustakaan 2016: Master Post

[#HUT5BBI] Giveaway Hop #BBIGiveaway

Enter The Magical Realm: Post Apocalyptic & Giveaway