Artemis Fowl and The Opal Deception #BookReview

Image
***
Judul: Artemis Fowl and The Opal Deception | Pengarang: Eoin Colfer | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan II, April 2018, 368 hlm, 20 cm | Status Owned Book, Beli Online @HobbyBukuShop, Diterima tanggal 16 Juli 2018 | Rating saya: 4 dari 5 bintang
***
Blurb:
Kaum Peri menghapus semua pengetahuan tentang dunia mereka dari ingatan satu satunya manusia yang mereka takuti : kriminal genius Artemis Fowl. Tapi sekarang mereka membutuhkan anak itu.

Pixie jahat Opal koboi ingin menghancurkan dunia. Menghentikannya berarti membersihkan nama kapten Holly Short yang dituduh membunuh, membebaskan si kurcaci kleptomaniak dari penjara, dan meyakinkan centaur supercerdas bahwa ia tidaklah tahu segalanya.

Kalau saja Artemis bisa mengingat mengapa makhluk makhluk aneh ini sangat bergantung padanya...
My Review:
Ini buku seru sekali deh, seriusss.

Ngomong-ngomong, waktu saya belum kenalan dengan Opal Koboi, saya penasaran sekali dengan buku keempat dari Artemis Fowl ini…

Scene on Three #56: The Infinity Cage


Aku memikirkan filosofi sebagai 'sains' lembut bagi mereka yang tidak dapat mengatasi jawaban pasti sains sebenarnya.""Sains adalah proses pemikiran yang dapat dibuktikan atau disanggah. Sementara filosofi, agama, seni...?"..."Dengan area pemikiran yang itu, opini setiap orang dianggap valid. Karena itu, tidak ada yang 'salah'. Yang secara logika berarti tidak ada yang benar. Itu pemikiran berputar-putar yang tidak akan membawa siapa pun ke mana-mana.(The Infinity Cage, hlm. 223)

Terakhir ikut Scene on Three di tahun 2016. Tidak terasa sudah absen selama dua tahun :)

Oke, untuk post SoT perdana saya di akhir tahun ini, saya mengambil scene dari buku terakhir seri Time Riders, The Infinity Cage (baca reviewnya di sini). 

Potongan scene ini diucapkan oleh Rashim sewaktu dia bercakap-cakap dengan Maddy dalam perjalanan mereka untuk menemui si Bapak Mesin Waktu, Ronald Waldstein.

Well, saya kurang lebih setuju dengan Rashim. Selain agama yang tentu saja harus saya yakini dengan sepenuh hati, saya rasa ilmu-ilmu di luar sains seperti filosofi, seni, hukum negara dan yang sejenisnya sangat tergantung dengan opini manusia.  Bisa berubah-ubah dengan begitu mudahnya. Sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang bisa dengan mudah disanggah oleh orang lain. Apalagi kalau yang menyanggah itu orang yang pandai bicara, kaya dan berkuasa.

Sangat berbeda dengan sains. Coba saja ada yang menyanggah salah satu hukum Newton. Coba kalau ada yang bilang F sebenarnya tidak sama dengan m.a, tetapi sama dengan m.v. Well, tidak bisa dibilang begitu saja kan. Apa yang dikatakan di dalam sains harus bisa  dibuktikan secara ilmiah.

Saya teringat waktu kuliah dulu, salah satu dosen MIPA saya pernah berkata, haram hukumnya bagi anak mipa untuk bicara tanpa fakta.

Oke, itu sudah terlalu ekstrem. Sekarang sudah pecah misteri kenapa anak MIPA jarang ada yang bisa ngomong panjang lebar, wkwkwk, *justkidding*.

Kebanyakan orang mungkin menganggap sains itu sulit. Tapi bagi saya itulah asiknya sains. Secara sederhana, sains memiliki kebenaran yang kuat. Kebenaran sebuah sains tidak bisa dipatahkan hanya oleh opini, seberapa panjang pun opini tersebut atau siapapun yang mengucapkannya. Untuk mematahkannya kita perlu pembuktian ilmiah berdasarkan fakta-fakta yang dapat diuji kebenarannya. Keren sekali <3

Oke, ini scene pilihan saya hari ini. Adakah scene yang menarik dari buku yang sedang kalian baca? Kalau ada yuk di share. Silakan klik gambar paling atas untuk info lebih lanjut tentang aturan main SoT ya. Have a nice 30 for you \^_^/

Comments

Popular posts from this blog

Proyek Baca Buku Perpustakaan 2016: Master Post

[#HUT5BBI] Giveaway Hop #BBIGiveaway

Enter The Magical Realm: Post Apocalyptic & Giveaway