Artemis Fowl and The Opal Deception #BookReview

Image
***
Judul: Artemis Fowl and The Opal Deception | Pengarang: Eoin Colfer | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan II, April 2018, 368 hlm, 20 cm | Status Owned Book, Beli Online @HobbyBukuShop, Diterima tanggal 16 Juli 2018 | Rating saya: 4 dari 5 bintang
***
Blurb:
Kaum Peri menghapus semua pengetahuan tentang dunia mereka dari ingatan satu satunya manusia yang mereka takuti : kriminal genius Artemis Fowl. Tapi sekarang mereka membutuhkan anak itu.

Pixie jahat Opal koboi ingin menghancurkan dunia. Menghentikannya berarti membersihkan nama kapten Holly Short yang dituduh membunuh, membebaskan si kurcaci kleptomaniak dari penjara, dan meyakinkan centaur supercerdas bahwa ia tidaklah tahu segalanya.

Kalau saja Artemis bisa mengingat mengapa makhluk makhluk aneh ini sangat bergantung padanya...
My Review:
Ini buku seru sekali deh, seriusss.

Ngomong-ngomong, waktu saya belum kenalan dengan Opal Koboi, saya penasaran sekali dengan buku keempat dari Artemis Fowl ini…

Hukum Kekekalan Timbunan #BookishTalk

Bismillahirrahmanirrahim


Hai..hai..berjumpa lagi dengan saya di postingan perdana #BookishTalk, sebuah label baru di blog saya yang khusus dibuat untuk menampung cuap-cuap saya tentang buku di luar #BookReview dan label-label lain yang sudah ada.

Di #BookishTalk kali ini, saya ingin memperkenalkan kalian dengan yang namanya #HukumKekekalanTimbunan dan para pencetusnya, sebuah perkumpulan yang menamakan dirinya sebagai Ordo Penimbun.

Istilah timbunan sendiri, mengacu pada buku-buku koleksi pribadi yang belum dibaca. Entah itu dalam format paperback ataupun digital. 

Nah, coba tengok rak buku kalian di rumah. Adakah diantara koleksi buku kalian yang belum dibaca? Atau coba intip e-reader kalian. Adakah e-book legal yang masih setia berada diantrian "to be read"? Kalau ada, selamat, kalian memenuhi syarat untuk bergabung ke dalam Ordo Penimbun.

Dulu saya sama sekali tidak punya timbunan. Boro-boro punya timbunan, buku koleksi pribadi pun saya tak punya. Nasib tinggal di kota kecil. Kalau mau beli buku harus pergi ke ibukota provinsi yang jaraknya lumayan jauh. Sedangkan jual beli online saat itu belum ada.  Saya hanya bisa memuaskan hobi membaca saya dengan membaca majalah-majalah dan meminjam buku dari perpustakaan.

Tapi semua itu berubah sejak saya kuliah di kota Banjarbaru. Akses ke toko buku semakin dekat. Bazar-bazar buku juga bertebaran. Saya terus membeli dan membeli buku yang saya suka. Hingga akhirnya jumlah timbunan buku melebihi kecepatan membaca saya. Belum selesai membaca satu buku, ada sepuluh buku baru lagi yang siap menunggu antrian untuk dibaca.

Saya ingat waktu pertama kali pergi ke event Banjarbaru Book Fair (saya lupa tahun kapan). Saya sudah menyediakan peralatan tempur karena saya yakin saya bakalan kalap di sana. Ransel besar siap, tabungan siap, stamina siap. Saya berada di sana dari tengah hari sampai malam, hohoho. Saya benar-benar memborong buku-buku yang ada di sana. Ransel besar saya penuh. Pulangnya saya pegal-pegal tapi puas. Untung waktu itu saya sudah bekerja. Jadi saya tidak terlalu merasa berdosa karena menghambur-hamburkan uang sendiri alih-alih uang orang tua. Walaupun kalau orang tua saya tau kemungkinan mereka bakalan ngedumel juga, hihihi. Timbunan saya menjadi semakin tinggi sejak event Banjarbaru Book Fair itu. 

Saya kira, sejak berhasil menjadi PNS dan kembali ke kampung halaman saya sendiri, saya akan terbebas dari godaan untuk membeli buku. Tapi malangnya, jual beli online semakin marak, semakin mudah, dan semakin terpercaya.  Hiks, timbunan saya jadi bertambah lagi, wkwkwk.

Sejak bergabung ke dalam komunitas Blogger Buku Indonesia (BBI), barulah saya menyadari kalau ternyata saya tidak sendiri, *halah*. Ternyata nyaris semua anggota BBI adalah penimbun buku semua. Mereka menamakan diri sebagai Ordo Penimbun dan merumuskan sebuah hukum alias pembelaan diri atas keinginan mereka yang tidak ada habisnya untuk selalu menambah koleksi buku tapi tidak bisa menambah kecepatan membaca yang diberi nama #HukumKekekalanTimbunan.

Saya kurang tahu siapa yang pertama kali mencetuskan #HukumKekekalanTimbunan ini karena jarang mengikuti perkembangannya di Twitter. Namun, kecurigaan besar mengarah kepada Mas Dion Yulianto dari blog Baca Biar Beken yang sering dijuluki sebagai raja penimbun. Juga ada Mbak Desty dari blog Desty Baca Buku, Mbak Alvina dari Mari Ngomongin Buku dan para dedengkot BBI lainnya XD

Berikut adalah bunyi #HukumKekekalanTimbunan:

Hukum Kekekalan Timbunan

  1. Kecepatan membaca berbanding terbalik dengan kecepatan menambah timbunan.
  2. Yang penting punya dulu, dibacanya kapan-kapan.
  3. Lebih baik menyesal beli, daripada menyesal tidak beli.
  4. Saya menimbun maka saya ada.
  5. Timbunan tidak bertambah atau berkurang, hanya berubah menjadi judul yang lain.
  6. Berat badan boleh turun, berat timbunan jangan.
  7. Celana boleh bolong, tapi seri buku favorit jangan sampai.
  8. Jangan...jangan pernah menolak timbunan baru yang datang
  9. Tahun baru sama dengan timbunan baru.
  10. Yang fana adalah kita, timbunan abadi.
Belum cukup dengan sepuluh pembelaan di atas, #HukumKekekalanTimbunan masih mempunyai beberapa wacana untuk ditambahkan, XD. Mereka adalah: 
  • Lebih baik menimbun buku daripada menimbun janji yang tidak ditepati
  • Jangan pernah, lantaran demi uang, berpaling dari semua barang yang telah kau koleksi sepanjang hayatmu. (Ray Bradburry)
  • Buku itu ibarat kawan, karena itu perbanyaklah.
Seperti ungkapan dari Frank Zappa, "so many books so little time". Buku-buku bagus selalu memanggil-manggil untuk dikoleksi, tapi terlalu sedikit waktu untuk bisa membaca mereka. Saya merasakannya sendiri setelah mempunyai pekerjaan, suami dan anak. Susah mencari waktu untuk bisa merasakan kemewahan membaca sewaktu masih menjadi "jomblo pengangguran" dulu.

Saya tidak bisa membaca buku di kantor karena akan dianggap mengabaikan pekerjaan. Bahkan jika sedang tidak ada yang dikerjakan. Pegawai yang bercakap-cakap di kantin saat jam kerja lebih bisa dimaklumi daripada pegawai yang membaca buku di saat jam kerja. Jadi percuma saja maraton mengerjakan tugas agar bisa punya waktu luang untuk membaca. Toh, kemungkinan besar kita akan dikira sedang ga kerjaan dan disodorin pekerjaan baru untuk dikerjakan.

Di rumah pun saya harus mencuri-curi waktu agar bisa membaca. Saya harus menunggu para "serdadu" tidur dulu baru bisa membaca tanpa diganggu, yang artinya saya harus mengorbankan jam tidur saya sendiri. *jadi curcol*.

Yaaah, buku-buku yang ditimbun itu, insyaAllah, suatu saat, akan kami baca. Tapi seperti bunyi #HukumKekekalanTimbunan nomor 1, kecepatan membaca kami kalah cepat dengan kecepatan menambah timbunan. Beberapa anggota Ordo bahkan sudah ada yang membagi-bagikan secara gratis buku-buku koleksi pribadi mereka, tapi seperti bunyi #HukumKekekalanTimbunan nomor 5, timbunan tidak bertambah atau berkurang, hanya berubah menjadi judul lain, wkwkwk.


Dan ya...gambar di atas adalah timbunan saya. Masih ada beberapa lagi sebenarnya yang tidak bisa tercapture di foto. So, seberapa tinggi timbunan buku kalian? Yuk dishare XD

Sampai jumpa di postingan #BookishTalk selanjutnya ya. Alhamdulillah \^_^/

Comments

  1. Sama kayak saya nih mba, kdg kalo liat buku suka pengen beli eh tapi waktu membacanya kdg senin kamis jd nya sering ktumpuk hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tuh kan, wkwkwk. Tenang saja, kita punya banyak teman XD

      Delete
  2. aku suka laper mata kalo ke toko buku. hahaha
    beli tapi belum di baca >.< dasar aku
    ada yang beli dari 2017 hehehe sampe sekarang masih beberapa lembar aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya ada yg dari 2012 Mbak, dan masih segel 😄

      Delete
  3. Duh, aku jadi merasa nggak berdosa setelah baca ini. Timbunanku lumayan banyak juga di rumah. Supaya bikin tekanan mental untukku sendiri, aku meletakkan buku2 tersebut yg sebagian besar masih bersampul plastik dekat tempat tidur agar selalu terlihat. Haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk, nice idea Mbak. Bisa jadi salah satu tips untuk mengurangi timbunan 😂

      Delete
  4. Anjayy bgt bener sih hukum2nya menurut Eny, Eny juga suka nimbun2 buku kek novel dan komik dan selalu membaca berulang2 😂

    ReplyDelete
  5. Aku tertohok, kemaein pgn bangt beli buku eh udah beli baru baca beberapa lembar doang.
    Sedih huhu


    Salam,

    www.rizkyashya.com

    ReplyDelete
  6. Berarti tim orde penimbun dong nisa wks. Suka mengoleksi buku novel tpi belom di unboxing. Mata emang suka laper kalo meliat buku ekeke

    ReplyDelete
  7. Sama mbak, kayaknya belum afdhal dibilang pencinta buku kalau di tempat tinggalnya nggak ada timbunan. saya mulai nimbun sejak kuliah, gara-gara lebih dulu baca buku koleksi perpustakaan kampus ketimbang buku yang dibeli. padahal, buku yang dibeli juga nggak banyak-banyak banget. niatnya, setelah lulus baru baca buku koleksi pribadi. eh, belum sempat dibaca semua, sudah menimbun lagi karena sudah bekerja dan punya uang sendiri. merasa bebas beli banyak buku. begitulah. jadi curcol kaan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, wkwkwk...aku juga kalap kalau ke perpus, pinjem aja terus, ga nyadar sama timbunan di rumah sendiri XD

      Delete
  8. Berdasarkan tulisan ini saya adalah penimbun hahahah. Kalau sudah masuk toko buku rasanya mau beli banyak tapi di rumah yang belum di baca saja sudah anteng menunggu.
    Apalagi waktu di kampus dulu, dari pada bosang nunggu kelas bisa istirahat di perpustakaan, baca apa aja. Bahkan bacaan yang enggak ada hubungannya sama sekali sama jurusan saya waktu itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, tos dulu kita sebagai sesama penimbun XD.

      Waaah keren, saya kalau bosan nunggu kelas biasanya ke kantin, *eh*, *ketauan nakal*

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Proyek Baca Buku Perpustakaan 2016: Master Post

[#HUT5BBI] Giveaway Hop #BBIGiveaway

Enter The Magical Realm: Post Apocalyptic & Giveaway